menu utama

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Jumat, 02 Juni 2017

PERAN PENDIDIKAN SQ DAN EQ DALAM KEBERHASILAN TUJUAN PENDIDIKAN

Di dunia pendidikan di Indonesia, titik berat pencapaian akademik seorang siswa masih tertumpu pada ranah kognitif. Paradigma seperti ini sebenarnya terasa lebih memanjakan peserta didik yang secara bawaan (genetis) telah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi. Sebagai imbas dari hal tersebut di atas, maka sebaliknya Sekolah bisa dianggap penjara yang menjemukan bagi siswa atau  peserta belajaryang memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah.
Jika ditilik dari prosentase masing-masing tingkat kecerdasan pada penduduk suatu negara, maka kelompok terbesar dimiliki oleh kelompok berkecerdasan normal. Oleh karena itu, pola pendidikan yang menitik beratkan pada tingkat perkembangan kognisi terkesan kurang relevan dengan proporsi kecerdasan dalam keseluruhan penduduk.
Intelektual Quotient (IQ) didefinisikan sebagai ukuran kemampuan intelektual, analitis, logika, dan rasio seseorang. Secara perspektif, IQ dipengaruhi oleh beberapa hal seprti genetis dan kesehatan seseorang.
Apakah IQ merupakan satu-satunya parameter untuk menggambarkan masa depan seorang peserta didik?
Ternyata tidak. Banyak kasus membuktikan bahwa ada faktor-faktor lain yang juga sangat mempengaruhi kesuksesan hidup seseorang ketika memasuki dunia kerja nantinya. Maka kemudian banyak bermunculan istilah baru sebagai faktor penentu lain keberhasilan hidup seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah seperti dinyatakan dalam EQ, SQ, dan ESQ.
Emotional quotient (EQ), adalah kemampuan seseorang berkomunikasi terhadap diri sendiri (personal) dan komunikasi ke orang lain (interpersonal). Secara personal meliputi penumbuhan kesadaran diri (self awareness), penerimaan diri (self aceptance), penghargaan terhaadap diri sendiri (self respect), dan penguasaan diri (sel mastery).
Spiritual quotint (SQ), adalah kemampuan seseorang dalam memahami hidup dan ketuhanan. Ketaatan, tingkat ketulusan penerimaan akan keberadaan Tuhan, yang erkait erat dengan pembentukan karakter bangsa dan keluhuran budi pekerti.
Emotional spiritual quotient (ESQ) merupakan gabungan dari kemampuan pengendalian diri seseorang dengan kemampuan spiritualnya.
Banyak bukti yang bisa disebutkan sebagai bukti bahwa nilai akademis yangg bersumber utama pada perkembangan kognisi tidak berkorelasi linier terhadap kondisi kepuasan hidup seseorang setelah masuk dalam dunia kerja. Bukan otomatis seseorang berakademis lebih baik dipastikan menempati strata ekonomi, sosial, dan kepuasan hidup lebih baik dalam masyarakat di usia dewasa.
Banyak pakar yang berpendapat bahwa SQ dan EQ justru lebih menentukan dari IQ




Gambaran umum faktor-faktor kepuasan hidup


Tidak dapat dipungkiri bahwa pada umumnya peserta belajar, tinggi rendahnya kualitas intelektual berkorelasi positif dengan kualitas spiritual dan kualitas emosional seseorang. Meski kondisi tersebut tidak selalu berlaku pada setiap indifidu. Sebagian kecil misalnya, kemampuan intelektual yang tinggi membuat seorangg peserta belajar terlalu bertopang pada faktor yang relatif bawaan ini. Merka mungkin saja mengabaikan arti pentingnya nilai spiritual karena cara berpikir yang terlalu realistis logis.
Mungkin atas pertimbangan ini sebagai salah satunya, pemerintahmelakukan pergeseran paradigma pendidikan ke arah lebih proporsional terhadap faktor-faktor tersebut melalui perimbangan tiga ranah yaitu afektif, kognitif, serta psikomotorik.
Dalam kurikulum terbaru, nilai perkembangan anak bangsa juga dididik dan dinilai dalam tiga ranah tersebut yang pada akhhirnya ketiganya memiliki peran seimbang dalam pembentukan nilai akademis seorang peserta belajar.
Hal ini sangat positif untuk membentuk karakter bangsa ke depanya. Tentunya semua akan terlaksana dengan dukungan setiap unsur baik sumber daya manusia yang berperan langsung maupun tak langsung serta didukung pemenuhan sarana prasarana yang memadai.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berguna bagi kemajuan pendidikan di negara ini